Komunikasi sebagai Proses Dinamis, Sistematik, dan Simbolik dalam Kehidupan Sehari-hari

Komunikasi dalam pandangan ilmu komunikasi bukanlah aktivitas sesederhana menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak lain. Ia adalah proses yang dinamis, sistematik, dan simbolik yang memainkan peran penting dalam membentuk makna, hubungan, bahkan jati diri seseorang dan kelompok. Dalam keseharian saya sebagai mahasiswa, pemahaman ini terbukti sangat relevan, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam interaksi sosial, lingkungan digital, serta dalam mengelola konflik dan kerja sama.

Komunikasi sebagai Proses Dinamis

Saya menyadari bahwa komunikasi adalah aktivitas yang senantiasa berubah—baik dari segi bentuk, media, maupun konteksnya. Sebagai contoh, ketika saya berdiskusi dengan teman secara langsung di kampus, saya dapat membaca ekspresi wajah dan nada suara mereka. Namun saat kami beralih ke grup WhatsApp, saya harus belajar menyesuaikan gaya komunikasi agar tidak menimbulkan salah tafsir. Hal ini mencerminkan bahwa komunikasi bukanlah proses linier atau kaku, melainkan menyesuaikan dengan waktu, tempat, dan kondisi psikologis individu yang terlibat.

Konsep ini juga ditegaskan dalam ajaran Islam. Dalam Surah Al-Isra (17:53), Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengucapkan kata-kata yang paling baik. Ini menunjukkan bahwa komunikasi perlu disesuaikan dengan situasi dan niat untuk menciptakan kedamaian, bukan sekadar menyampaikan isi hati. Ketika terjadi kesalahpahaman antara saya dan teman sekelas soal pembagian tugas, saya memilih untuk berbicara langsung dan menggunakan kalimat yang lebih persuasif, bukan konfrontatif. Hasilnya, kami kembali pada kesepahaman bersama. Dari sini saya menyadari bahwa komunikasi yang baik juga perlu adaptasi dan keluwesan.

Komunikasi sebagai Sistem yang Saling Terkait

Komunikasi juga merupakan sistem, artinya melibatkan elemen-elemen yang saling bergantung satu sama lain: pengirim, penerima, pesan, media, dan umpan balik. Dalam sistem ini, gangguan atau ketidakseimbangan pada satu unsur dapat memengaruhi keseluruhan proses. Sebagai contoh, dalam sebuah rapat organisasi kampus, ketidaksiapan moderator dalam menyampaikan alur diskusi membuat pembicaraan menjadi kacau dan tidak fokus.

Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat (49:6) mengajarkan pentingnya memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Ini adalah prinsip penting dalam menjaga sistem komunikasi tetap berjalan baik. Di lingkungan sosial saya, penyebaran informasi yang belum diverifikasi seringkali menimbulkan keresahan, bahkan perpecahan. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya ketepatan informasi dan kejelasan peran dalam suatu sistem komunikasi.

Simbol sebagai Pembentuk Makna

Simbol dalam komunikasi berperan besar dalam pembentukan makna. Kata-kata, isyarat, nada suara, hingga emoji dalam media digital adalah simbol yang menyampaikan makna tertentu. Misalnya, saat dosen mengernyitkan dahi ketika mahasiswa menjawab asal-asalan, itu adalah simbol nonverbal yang memberi umpan balik tanpa kata-kata.

Islam juga sangat menekankan pentingnya simbol dalam komunikasi. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Diam di sini bukan hanya ketiadaan suara, tetapi simbol kontrol diri dan kesadaran etis dalam berkomunikasi.

Saya pernah mengalami situasi di mana saya memilih untuk tidak membalas komentar sinis dari rekan secara terbuka, melainkan mendekatinya secara pribadi dengan sikap tenang. Keputusan ini bukan karena takut, tetapi karena saya memahami makna diam sebagai bentuk komunikasi yang lebih bijak dan efektif dalam konteks tersebut.

Penutup

Komunikasi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia bukan hanya sarana penyampaian pesan, melainkan proses yang menciptakan makna, membentuk relasi, dan bahkan mencerminkan nilai-nilai moral. Komunikasi yang dinamis, sistematik, dan simbolik memberi kita peluang untuk terus belajar dan tumbuh, baik dalam ruang privat maupun publik.

Dengan berpijak pada ajaran Islam dan prinsip-prinsip komunikasi ilmiah, saya semakin memahami bahwa berbicara bukan sekadar berkata, tetapi memilih makna yang ingin dibangun. Mendengarkan bukan hanya diam, tetapi menyimak dengan hati. Dan setiap simbol, dari senyum hingga emoji, membawa potensi untuk menyatukan atau memecah hubungan. Oleh karena itu, memahami komunikasi secara mendalam adalah bekal penting untuk menjalani kehidupan sosial yang harmonis dan bermakna.

Profil Penulis

Hartono, lahir tanggal 17 Januari 2006, kota Dumai, anak ke 2 dari 3 bersaudara. Tinggal di Jl. Tenaga RT-04 no.4 Lulusan dari SMKN 2 Dumai tahun 2024, terletak di Jl. Bukit Datuk Lama no.100 Mengambil jurusan hukum keluarga islam dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan keislaman serta lebih mengenal hukum hukum yang tertera dalam Islam dan menjadi seorang pengacara


Comments

Popular posts from this blog

Ayat Al-Qur’an & Hadist tentang Komunikasi

Hukum Keluarga Islam di Indonesia